Batu Pirus…keindahan berbalut tembaga
June 2, 2008 by ventus
| Batu Pirus…keindahan berbalut tembaga | |||
Batu
Pirus. Sering kita dengar orang yang umumnya berusia menyebut batu biru
bergurat dengan sebutan Pirus. Memang batu Pirus banyak dipakai di
segmen usia 40 tahun keatas. Pirus bernama lain Turquoise atau fairus,
merupakan campuran fosfat tembaga dan alumunium ada juga yang menyebut
sebagai campuran tanah, kapur, dan batu.
Tak heran ada batu Pirus yang terlihat gurat-gurat putih. Batu Pirus
atau Turquoise memiliki corak bermacam-macam, yang paling umum dijumpai
adalah bermotif sarang laba-laba dilatari warna biru atau hijau. Warna
dasar Turquoise adalah biru seperti langit, biru muda kehijauan hingga
ke hijau muda. Warna biru berasal dari tembaga ,ferum (besi), dan
aluminium. Batu Pirus atau Turquoise berasal dari Semanjung Persia
(Iran, Israel, Afghanistan, Sinai), Nevada, Carlifornia, New Mexico, dan
Arizona.![]()
Ditinjau dari skala
kekerasan yang dimiliki, Batu Pirus atau Turquoise memiliki kekerasan
antara 5-6 pada skala Mohs. Hal inilah yang mengakibatkan sebagian ahli
menyebut sebagai batu setengah permata, dan tergolong permata kelas III.
Tapi dari sisi keindahannya, Batu Pirus tetap memiliki tempat dihati
para pecinta anugerah Illahi yang berupa batu Pirus ini. Di Pasar
Indonesia, harga Batu Pirus atau Turquoise tidaklah terlampau tinggi. Untuk
per gram batu mentah dibandrol Rp 4.000/gram. Tapi kalo sudah dipotong
dan dipoles, pembeli dapat merogoh saku sekitar Rp 20.000 – Rp 500.000,-
tergantung kualitas dan usuran Batu Pirus yang ada. Di pasaran dunia,
Batu Pirus mempunyai harga yang baik di pasaran. Batu Pirus dari Persia
hádala Pirus yang berharga di pasaran karena memiliki warna biru atau
hijau tanpa sebaran jalur. Seperti yang terjadi dipasarm bahwa Batu
Pirus pun tak lupus dari praktik pembuatan sintetik baik legal maupun
ilegal. Ironisnya, sulit sekali membedakan antara batu Pirus asli atau
imitasi. Apalagi sudah dibuat menjadi perhiasan, atau gelang yang dibuat
indah berbalus emas atau perak.
Umumnya,
turquoise dipergunakan dalam bentuk cincin, kalung, dan giwang dan
seringkali dijual secara serangkai. Selain itu, gelang, gelang kaki, dan
liontin juga turut mempresentasikan bebatuan yang eksotik ini. Bahkan,
bebatuan yang sering disebut dengan nama pirus ini juga hadir dalam
bentuk kepala sabuk, bros, bahkan hiasan di atas selop wanita. Pirus dan Mitos khasiat yang menyertainya
Dari
beberapa info, pertama kali Batu Pirus digunakan sekitar 7000 tahun yang
lalu, berarti dibanding Lapis lazuli, batu Pirus 500 tahun lebih awal
dikenal sebagai permata. Hal ini terbukti dengan ditemukannya Pirus
sebagai alat solekan di Mesir Purba dan menjadikannya celak mata. Para
ahli menemukan bahwa di suku Inca kuno dan Mesir menggunakan Batu Pirus
sebagai perhiasan bagi menghias mayat golongan bangsawan sebelum
dimakamkan. Tak heran bila banyak makam bangsawan Inca kuno dibongkar
kuburnya untuk mendapatkan harta berupa batu ini sebelum kuburan
dimusnahkan.
Orang
Barat menganggap Batu Pirus sebagai batu yang mempunyai berbagai
keistimewaan dari segi penyembuhan penyakit. Sedangkan di suku Puak Red
Indian dahulu meletakkan Batu Pirus pada busur panah sebagai kepercayaan
mereka bahwa batu Pirus dapat membantu mereka memanah pada sasaran yang
tepat.
Tidak
hanya berkutat seputar sejarah, untuk masa kini Batu Pirus diyakini
dapat membantu profesi akuntan dalam bekerja karena diyakini dapat
membawa pada relaksasi mental dan pikiran karena perasaan was-was atau
bingung. Tak hanya itu, Illahi memberikan anugerah berupa manfaat
untuk mengatasi penyakit paru-paru, syaraf, mata, penyakit di
kerongkongan. Pirus pun mampu menguatkan jantung, memperbaiki peredaran
darah, keracunan dalam darah, dan memulihkan tenaga.
Memahami Batu Pirus Asli dan Imitasi
Banyak
dikenal Batu Pirus adalah warna biru, bebatuan ini sebetulnya mempunyai
banyak variasi warna. Semakin tinggi kandungan tembaganya, maka semakin
biru warna bebatuan ini. Sebaliknya, jika kandungan besinya yang lebih
tinggi, maka warna turquoise cenderung ke arah hijau. Ini, tentu saja,
bila merupakan turquoise asli.
Sedang
turquoise imitasi, tentu tidak mengenal ‘hukum’ semacam itu. benda ini
biasanya merupakan hasil olahan laboratorium. Dengan begitu, warna yang
dihasilkan juga cenderung seragam, mendekati biru. Turquoise imitasi
yang berwarna pucat dibuat dengan menutupkan wax atau minyak untuk
membuyarkan warnanya. Hanya saja, biasanya warna ini tidak akan permanen
sifatnya. Bagaimana membedakan turquoise asli dan palsu? Turquoise
asli, akan tetap berwarna biru sampai ke dalam kendati patah.
Sebaliknya, yang palsu atau Aspal apabila dipotong maka warna birunya
tidak sampai dalam.
Sekarang tinggal anda yang bisa menjawab, bagaimana dengan anda? Tertarik untuk memiliki Batu Pirus?
| |||


Umumnya,
turquoise dipergunakan dalam bentuk cincin, kalung, dan giwang dan
seringkali dijual secara serangkai. Selain itu, gelang, gelang kaki, dan
liontin juga turut mempresentasikan bebatuan yang eksotik ini. Bahkan,
bebatuan yang sering disebut dengan nama pirus ini juga hadir dalam
bentuk kepala sabuk, bros, bahkan hiasan di atas selop wanita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar